Namaku Damar
Jika kamu membaca, bagian Tempat Tinggal Damar, mungkin ada diantara kamu akan bertanya siapa Damar? Mari aku ceritakan ya? Damar Putra Pradana Wisnu. Berumur 6 tahun,
belum dikarunia Tuhan Adik, putra dari Bapak Wisnu Nugroho, dan Ibu Kinanti Asih. Rambutnya ikal hitam, sewarna dengan bola matanya, kulitnya coklat, badannya sedang sama dengan Anak-anak se-usianya. Ia baru duduk di kelas 1 Sekolah Dasar Mentari Pagi, di kota kecamatan Lembah Hijau, yang terletak di depan taman kota, hanya 50 meter dari toko kelontong Pak Aji, tempat Ibunya bekerja. Setiap jam 8 pagi, ia dibonceng Ibu dengan sepeda pergi ke sekolah. Kadang jika Ayah sedang tidak bertugas di laut, selama sebulan dari 3 bulan Beliau di laut, Ia akan diantar Ayah juga menggunakan sepeda. Ibu sangat senang bila Ayah di rumah. Pekerjaan menjadi lebih ringan, kata Ibu. Ayah bisa membantu Ibu menyiapkan sarapan, sementara Ibu mencuci baju, lalu merawat tanaman-tanaman di kebun sayur, mengantar damar sekolah, sehingga Ibu bisa mencicil membuat baju untuk Damar, atau membuat kue-kue praktis. Perjalanan yang di tempuh dari rumah Damar sendiri ke Sekolahnya, hanya 30 menit menggunakan sepeda. Lalu apa yang membedakan Damar dengan kamu dan Teman-teman sebayanya. Damar suka sekali mengenakan baju ala pelaut berkerah segi empat di belakang baju, dan membentuk seperti huruf V di bagian depan. Sejak umur 4 tahun ia selalu merengek ke Ibu, minta dibuatkan baju pelaut, gara-gara Ia pernah ditunjukkan Kakek Danu, yang bekerja dan tinggal di Mercu Suar 50 meter di sebelah rumahnya, foto diri Kakek ketika kecil mengenakan baju ala pelaut. Dengan susah payah Ibu menyempatkan diri membuat baju ala pelaut, atau ketika Ayah di darat, Ayah akan mencari kain-kain bekas untuk ditambahkan pada kaos-kaos Damar, agar mirip kerah pelaut. Tidak rapih memang, tapi: “ yang penting Damar suka”, kata Ayah. Bila Ayah dan Ibu tidak ada waktu menjahit baju, mereka akan membeli bahan di toko bahan milik Bapak A Liong, lalu menjahitkannya di Mang Ujang dan Bibi Kokom, sepasang suami istri penjahit, yang jahitannya terkenal rapi dan disukai warga Lembah Hijau.
Jika kamu membaca, bagian Tempat Tinggal Damar, mungkin ada diantara kamu akan bertanya siapa Damar? Mari aku ceritakan ya? Damar Putra Pradana Wisnu. Berumur 6 tahun,
belum dikarunia Tuhan Adik, putra dari Bapak Wisnu Nugroho, dan Ibu Kinanti Asih. Rambutnya ikal hitam, sewarna dengan bola matanya, kulitnya coklat, badannya sedang sama dengan Anak-anak se-usianya. Ia baru duduk di kelas 1 Sekolah Dasar Mentari Pagi, di kota kecamatan Lembah Hijau, yang terletak di depan taman kota, hanya 50 meter dari toko kelontong Pak Aji, tempat Ibunya bekerja. Setiap jam 8 pagi, ia dibonceng Ibu dengan sepeda pergi ke sekolah. Kadang jika Ayah sedang tidak bertugas di laut, selama sebulan dari 3 bulan Beliau di laut, Ia akan diantar Ayah juga menggunakan sepeda. Ibu sangat senang bila Ayah di rumah. Pekerjaan menjadi lebih ringan, kata Ibu. Ayah bisa membantu Ibu menyiapkan sarapan, sementara Ibu mencuci baju, lalu merawat tanaman-tanaman di kebun sayur, mengantar damar sekolah, sehingga Ibu bisa mencicil membuat baju untuk Damar, atau membuat kue-kue praktis. Perjalanan yang di tempuh dari rumah Damar sendiri ke Sekolahnya, hanya 30 menit menggunakan sepeda. Lalu apa yang membedakan Damar dengan kamu dan Teman-teman sebayanya. Damar suka sekali mengenakan baju ala pelaut berkerah segi empat di belakang baju, dan membentuk seperti huruf V di bagian depan. Sejak umur 4 tahun ia selalu merengek ke Ibu, minta dibuatkan baju pelaut, gara-gara Ia pernah ditunjukkan Kakek Danu, yang bekerja dan tinggal di Mercu Suar 50 meter di sebelah rumahnya, foto diri Kakek ketika kecil mengenakan baju ala pelaut. Dengan susah payah Ibu menyempatkan diri membuat baju ala pelaut, atau ketika Ayah di darat, Ayah akan mencari kain-kain bekas untuk ditambahkan pada kaos-kaos Damar, agar mirip kerah pelaut. Tidak rapih memang, tapi: “ yang penting Damar suka”, kata Ayah. Bila Ayah dan Ibu tidak ada waktu menjahit baju, mereka akan membeli bahan di toko bahan milik Bapak A Liong, lalu menjahitkannya di Mang Ujang dan Bibi Kokom, sepasang suami istri penjahit, yang jahitannya terkenal rapi dan disukai warga Lembah Hijau.
Suatu hari, Ayah membeli beberapa meter bahan berwarna biru muda, dan beberapa meter bahan berwarna biru tua, untuk dibuatkan baju pelaut, jika Damar pergi ke Acara Resmi, seperti pernikahan atau acara perpisahan disekolahnya. Kata Ibu, penting bagi Damar untuk dibuatkan baju resmi. Maka segera Ayah dan Damar, pergi ke Mang Ujang dan Bibi Kokom, untuk menjahitkan baju tersebut. Satu minggu kemudian jadilah celana pendek berwarna biru tua, dengan atasan ala pelaut dengan aksen biru tua, mengelilingi tepi kerah segi empat dan V nya. Juga pada pergelangan tangannya…..”Euleuh-eleueeh ini anak jadi tampan sekali”, kata Mang Ujang pada Damar. Damar pun tersenyum malu sambil mengatakan, “terima kasih Mang”. Lalu tiba-tiba Bi Kokom, mengambil topi seperti topi milik Pak Polisi, di sekitar rumahmu. Bibi Kokom, khusus membuatkan untuk Damar. Mata Damar terbelalak melihat topi tersebut, “wwwooow Bi, bagus sekali topinya”. Serta merta ia memeluk dan mengucapkan terima kasih banyak, pada dua Orang yang bersusah payah membuatkan baju untuknya.
Baju resminya pertama kali ia kenakan, ketika Ia juga Ayah Ibunya, diundang makan malam di Mercu Suar, tempat Kakek Danu tinggal. Berjalan Gagah, ia kenakan setelan resminya, kemeja pelaut warna biru muda, dengan aksen biru tua mengelilingi tepian kerahnya, senada dengan warna celana pendeknya. Ia kenakan dengan kaos kaki putih bersih dan sepatu kulit hitam bekas tapi masih bagus, yang di beli Ayah di kios barang bekas di pasar. Topi pet nya tak lupa ia kenakan, menutupi rambut ikalnya yang agak gondrong. Ayah mengatakannya ia seperti seorang pangeran Austria sewaktu kecil sebelum perang dunia pertama, namun berhidung mungil, dan berkulit gelap, sementara Kakek Danu mengatakan ia seperti tentara kecil. Ibu berpendapat, Damar hanya seperti Damar seorang. Sementara Damar, menimpali ia tidak mau jadi pangeran, yang selalu di kawal kemana-mana, “macam penjahat katanya”. Ia juga tidak mau jadi Tentara. “Kalau jadi tentara, aku bisa tertembak, timpalnya”.” Jika aku tertembak, lalu siapa yang menjaga Ayah dan Ibu, jika Ayah Ibu sudah tua”….serta merta Ayah dan Kakek Danu tertawa di meja di sekeliling meja makan, tempat tinggal Kakek Danu. Dan Ibu memeluk Damar. Damar suka di peluk tapi tidak untuk berlama-lama. “Seperti seorang bayi,kalau dipeluk lama-lama, pikirnya”.
Begitulah Damar. Seorang Anak yang unik, sebagaimana kau, aku, dan semua orang dewasa pernah mengalaminya. Kadang ia adalah anak yang manis, sebagaimana yang diharapkan orang dewasa. Kadang ia berbuat kenakalan, kesalahan sengaja atau tidak sengaja atau ia tidak sadar bahwa perbuatannya keliru di mata orang dewasa. Ada-ada saja yang ia lakukan. Menyiram tanaman sayur dengan air sebanyak-banyaknya, sehingga semua sayur mati semua, mematahkan semua isi pensil mekanik, sampai potongan kecil-kecil, yang pada akhirnya malah tidak bisa digunakan, nekat memanjat pohon hingga ranting paling tinggi yang berakibat patah tulang dan hampir mencelakakan dirinya, juga perbuatan lain yang nanti kau bisa membacanya sendiri….
Begitulah Damar. Seorang Anak yang unik, sebagaimana kau, aku, dan semua orang dewasa pernah mengalaminya. Kadang ia adalah anak yang manis, sebagaimana yang diharapkan orang dewasa. Kadang ia berbuat kenakalan, kesalahan sengaja atau tidak sengaja atau ia tidak sadar bahwa perbuatannya keliru di mata orang dewasa. Ada-ada saja yang ia lakukan. Menyiram tanaman sayur dengan air sebanyak-banyaknya, sehingga semua sayur mati semua, mematahkan semua isi pensil mekanik, sampai potongan kecil-kecil, yang pada akhirnya malah tidak bisa digunakan, nekat memanjat pohon hingga ranting paling tinggi yang berakibat patah tulang dan hampir mencelakakan dirinya, juga perbuatan lain yang nanti kau bisa membacanya sendiri….
