Tiba Tiba Lenyap

Tiba-tiba lenyap....

Di suatu Minggu Pagi yang cerah, Damar, Kia, Ayu, Tegar, Butet, Bersepeda menuju pantai yang tidak jauh dari rumah.
Sebelumnya para Orang tua mereka sudah memperingatkan mereka untuk tidak berenang di laut, mengingat gelombang yang agak besar akhir ini

Mereka patuh kepada orang tua mereka dan tidak mau mencelakakan diri mereka, sendiri, setelah ada peristiwa seorang turis yang tenggelam dipantai, karena, tidak menuruti nasehat Nelayan setempat, untuk tidak berenang, di saat gelombang tinggi.



Jadi, hari minggu itu mereka sepakat untuk bermain pasir saja di pantai, jauh dari capaian ombak, dan memilih berpiknik, di tempat yang tidak terlalu jauh dari pos penjaga pantai.
Setiba di Pantai, mereka mulai menggelar tikar untuk tempat menaruh bekal-bekal, yang mereka bawa dari rumah masing-masing. Ada singkong, Ubi rebus. Sup sayur, rumput laut kering dan keripik pisang untuk camilan, pepaya dan mangga yang sudah dikupas sekaligus potong-potong, pepes ikan dengan sambal, dan bolu isi selai jeruk, untuk pencuci mulut.
Pokoknya sedap deh, bekal mereka. "Apalagi bila ada diantara kamu yang sedang bosan dengan nasi". Akan habis nggak bersisa, singkong dan ubi rebus olehmu.

Sesudah menggelar tikar dan merapihkan perbekalan, masing-masing mulai mencari tempat, untuk membuat sesuatu dari pasir, sambil menenteng alat-alat yang mereka perlukan.
Ada ember plastik, sekop, cangkul dan garpu tanah mini dari plastik.

Beragam bentuk yang mereka buat dari pasir putih yang lembut itu... Ayu dan Tegar, sepakat membuat istana bersama-saman
Kia dan Butet, nampak sibuk membangun "jack" si manusia salju dalam versi pasir dan terpaksa berbentuk kotak. Karena Pasir demikian rapuh dan sulit, untuk dibuat bulatan.
Damar, teman kita yang unik, memilih bekerja sendiri, membuat bentuk gundukan tanah, yang teman-temannya tidak tahu akan jadi apa gundukan besar pasir itu.

Tak berapa lama kemudian, selesailah karya mereka. Masing-masing puas memandangi karya-karya mereka.
Sempat pula Ayu dan Kia bertanya ke Damar, tentang karya "anehnya itu".
 "Damar kamu itu buat apa sih?" kata Ayu
 "Ku beri judul, sarang telur penyu". Jawab Damar
 " Lah lalu mana telurnya, tanya Kia"
 " ya...namanya juga sarang telur penyu, ya....telurnya ngumpet nggak terlihat lah dalam lubang itu", gimana sih?" jawab Damar

Mendengar jawaban Damar, sambil tertawa Butet menjawab:
"nggak sekalian saja kau beri judul, buatanmu itu, "sebuah kuburan"

"ha...ha..ha.." semua Anak dan Damar sendiri, ikut tertawa", sampai tegar mengatakan:
"aku lapar nih, kamu semua nggak lapar apa?". "yuk...ayuuk kita makan, kata Ayu"
Semua Anak menyepakatinya....Mulai lah mereka saling berbagi dan menyantap makanan yang sehat dan lezat itu.


Di tengah asyiknya mereka menyantap hidangan penutup yaitu bolu isi selai jeruk yang dibuat Ibu Hallet-Ibunda Butet, tiba-tiba, Bang Kukuh penjaga pantai yang hendak menggantikan tugas Bapak Soma yang jam jaganya habis, melintas di depan mereka.
"Aduuuh lezatnya kue yang dimakan Adik-adik manis, ini....", Sapa Bang Kukuh.
"eeh Abang...silahkan Bang, mari dicicipi", sahut Damar sambil buru-buru memotong kue, untuk Bang Kukuh.
"Ya ampuun seru Ayu...bahkan dari tadi kita, tidak menyisihkan bekal dan membawa ke atas, untuk Pak Soma"
"Haduh terlalu kita, kata Kia". "Padahal apa jadinya semua orang yang ada di sekitar pantai, jika tidak ada Pak Soma", lanjut Kia.
"Bang, maaf...kalau Bang Kukuh ke atas, bisa tolong bawakan kue untuk Pak Soma", pinta Ayu?
"Ya Tuhan, baik...baiknya....hati kalian ini, ujar Bang Kukuh", Abang jadi malu.
"tenang Bang, kalau banyak malu, jangan-jangan jadi malu-malu in, lhooo", Damar mencoba melucu tapi nggak lucu.
"Memang ada hubungannya ya Damar?" jawab Ayu bingung.
"Tentu saja nggak", Damar asal jawab.
"Huuu....."semua Anak protes ke Damar, yang disambut gelak tawa Bang Kukuh"
 "Terima kasih banyak ya...Adik-adik yang baik hati dan manis, semanis kue pukis".  Bang Kukuh naik ke menara pengawas dulu ya....sekalian antar kue untuk Pak Soma.
"Terima kasih kembali", Bang Kukuh, jawab mereka berlima, kompak.


Setelah, Bang Kukuh bertugas, dan 5 orang Anak-anak yang sedang menikmati hari liburnya, kekenyangan, Tegar membuka pembicaraan:
"Enaknya ngapain nih" Tanya Tegar.
"Aku mau mengumpulkan cangkang kerang, kecil2, kebetulan aku membawa benang wol tebal, isolasi, dan lem berperekat kuat." aku mau buat kalung untuk Ibuku, juga gantungan kunci untuk ayahku", kata Ayu.
"waaah ide bagus Ayu", aku juga aah, mau membuat buah tangan, untuk Ibu Ayahku", kata Butet
"Yuk kita mulai, nanti kamu boleh memakai benang dan lem milik aku", kata Ayu kepada Butet.
"Tegar dan Kia", kamu mau ngapain tanya Butet", terus bagaimana dengan mu Damar"?
"Aku kebetulan bawa dus sepatu bekas, yang sudah ku lubangi bagian tengahnya". "aku tinggal hias dan tutupi dengan kerang dan pasir, untuk tempat tisu, dirumahku". Mudah-mudahan Ayah-Ibuku suka", kata Kia.
" Tak kusangka Anak cowok ingat juga dengan Ayah Ibu"? Kata Butet
"Iya dong" kan aku juga seneng kalau Ibu Ayahku seneng hatinya."kayak gituu maah nggak anak cewek saja kali"? Kia agak setengah protes ke Anak-anak perempuan
"ya...deh...kata Butet", Kamu Tegar, mau ngapain rencananya", tanya Butet".
"Aku mau melukis aaah...untuk kamar Ayah Ibuku", "biar nggak kosong melompong, seperti gigi ompong", itu dinding kamar Beliau". "lah kau Damar"? Tanya Tegar.
"Aku mau buat anyaman dari daun kelapa, yang jatuh itu". Aku ingin membuat tatakan gelas, dari Anyaman daun kelapa".
"Yuk kalau githu, kita mulai, waktunya minum perasan lemon dan kue sisa makan siang tadi, nanti sore sebelum pulang, ajak Tegar"

Segeralah mereka berlima sibuk dengan aktivita masing-masing, mengumpulkan kerang, melukis, dan menganyam.
Sedang asyik-asyiknya Damar menganyam tiba-tiba: "Aaaawww....jerit Damar tidak terlalu keras, sehingga Teman-temannya".
Damar merasa ada yang mencubit betisnya, setelah ia lihat ternyata se-ekor kepiting pertapa (mungkin kamu mengenalnya dengan istilah keong berkaki, kelomang, umang-umang, kumang), dengan cangkangnya sebesar sekepal tangan Damar.
Untung kepiting pertapa itu  segera melepaskan jepitannya, dan hendak melepaskan diri. Namun cepat-cepat Damar menangkap cangkangnya dan memasukkan ke ember plastiknya.
"aku mau memeliharanya aaah". Kata Damar dalam hati.

Tibalah waktunya bagi Damar dan Kawan-kawannya minum perasan lemon yang manis asam, buatan Ibunda Tegar, dan kue sisa makanan penutup tadi siang.
"paling enak ya...kalau kita mengisi liburan seperti ini", Kata Butet
"hmm tapi kalau keseringan mungkin bosan juga ya?", kata Damar.
"Iya juga"kata Butet, bisa-bisa koleksi mainan kayuku penuh debu, kalau hanya sebulan sekali dibersihkan", kata Butet. Padahal ngrasa enak ngebersihin itu ya..hari minggu, kata Butet" bisa sekalian, mainkan, hi..hi..hi..

Tak lama kemudian, licin tandaslah semua perbekalan. 5 Anak yang manis (tapi giginya tidak gupis, geripis, gigis (bahasa kerennya karies), hi..hi..hi..), segera membereskan peralatan makan mereka, juga membuang sampah-sampah dari pekerjaan prakarya mereka, ketempat sampah
Masing-masing merasa senang, dengan hasil karya mereka, dan berharap Ayah Ibu mereka di rumah, senang dengan karya mereka.
Ketika mereka akan kembali pulang, tak lama setelah pekerjaan membereskan tempat piknik mereka,terdengar suara: "Klotak-klotak", dari ember kecil Damar yang disampirkan ke lengan sepeda.

"Suara apa itu" tanya Tegar
"Ini kepiting pertapaku", jawab Damar.

Semua buru-buru melihat ke ember plastik kecil milik Damar, yang digunakan untuk bermain pasir.
"Wah lumayan besar, kepiting pertapa ini", kata Butet
"Iya nih, tapi kau harus buru-buru mengganti tempatnya sesampai dirumah lho..."timpal Kia. "embernya terlalu sempit tuh untuk hewan itu"
"iya...iya...makasih ya..saranmu, Kia". "Sekarang kita pulang yuk, sudah jam 5 sore".

Segeralah mereka berpamitan dan berterima kasih pada Bang Kukuh, mengijinkan dan mengawasi mereka dan pengunjung pantai yang lain, menikmati keindahan Pantai.
Mereka pun menitip salam dan terima kasih pula pada Pak Soma, yang tidak mereka lihat ketika Beliau, pulang, karena asyik membuat buah tangan, untuk orang tua masing-masing.
5 Anak-anak ceria itu pun pulang dengan bahagia, karena hari minggu yang mereka lewatkan sangat menyenangkan.

Sesampai di rumah Damar, menyerahkan prakaryanya ke Ibu dan Ayah yang sedang bebas tugas 1 bulan dari kapal pesiar.
Ayah dan Ibu Damar, sangat menyukai tatakan gelas dari anyaman daun kelapa buatan Damar, dan menyuruhnya segera mandi.

Saat Makan Malam, Ayah berkata: "Damar, kepiting pertamamu, nanti sebelum kamu tidur, jangan lupa di pindah ke bekas Aquarium di kamarmu", supaya tidak lepas, jika kau ingin memeliharanya"
"Baik Ayah", Damar mengiyakan nasihat Ayah sambil lalu, karena sibuk melahap tumis labu siap, kesukaannya.

Karena lelahnya setelah Damar, selesai makan malam, memasukkan buku2 pelajarannya ke dalam tas (Tegar sudah mengerjakan PR sebelum ke pantai), mencuci tangan, kaki, menggosok Gigi, Berdoa, ia langsung pergi tidur.
Ia lupa pesan Ayahnya untuk memindahkan kepiting pertapa, ke bekas aquariumnya....

Ke Esokkan Paginya, terjadilah keributan kecil di rumah Damar
"Ayaaaah...Ibu...." Ayah yang sedang membuat nasi goreng untuk sarapan, menjawab: "Apa Damar"
"Ibu...Ayah.." Kepiting pertapaku lenyap...hanya cangkang saja yang tertinggal", Binatang hantu, dia Yah....
Ibu yang sedang memasukkan apel ke tas bekal Damar, tertawa geli".... dan menjawab: "bisa dijadikan film tuh Damar...Misteri hantu kepiting pertapa"
"Ibu..jangan goda aku dooong", jawab Damar...memelas...

Lalu Ayah menimpali" Pasti kamu tidak segera lakukan nasihat Ayah kan"? Ayah kan sudah bilang, embermu itu terlalu kecil untuk kepiting pertapanya".
"Lagi pula cangkang kepiting pertapa, Ayah lihat juga sudah terlalu penuh untuknya sehingga, capitnya pun mudah keluar".
"Jadilah ia meninggalkan cangkangnya yang lama, mungkin ia juga bisa merayap di atas cangkangnya yang lama, dan melarikan diri, karena ember kecilmu, terlalu rendah, jadi mudah di panjat. Jelas Ayah"

"Ya...Ayah...", sahut Damar, aku jadi nggak semangat ke Sekolah".
"jangan githu dong", masak kamu nggak seneng lagi dengan dongeng-dongeng dari Ibu Gurumu Ibu Sotya, di sekolah? "Tanya Ibu"
"Ya...seneng laah Ibu...aku juga sudah janji dengan Teman-teman mau main galah asih (gobak sodor), nanti jam istirahat". Jawab Damar
" naah kalau githu yang semangat dong...Anak Ayah ke sekolah". Nanti kalau Ayah ke Pasar membeli benih, coba Ayah cari ada yang jual kepiting pertapa tidak ya? Tapi Ayah nggak janji lho...
"hfff iya deh Ayah". Terima kasih ya...Yaah...
Sama-sama, jawab Ayah...yuk kita berangkat semua

Mereka pun meninggalkan rumah untuk beraktivitas, Ibu mengayuh sepedanya ke Toko, tempat iya bekerja, Ayah bersepeda mengantar Damar ke sekolah.
Di boncengan sepeda Ayah, ia menolehkan kepalanya ke arah Pantai sambil berkata dalam hati:
"Semoga engkau selamat sampai tempat asalmu wahai kepiting pertapa", pasti kau akan lebih bahagia disana".
"Juga semoga engkau pun segera menemukan rumah yang cocok untukmu"