Yaaaah Kok jadi Begini

Yaaaah Kok jadi Begini…..

Suatu sore yang cerah, Damar, dan beberapa sahabatnya: Kia, dan Arai bersepeda ke rumah Butet. Mereka bermaksud untuk mengajak Butet untuk berkunjung ke rumah Tegar.


 Dan niat ke rumah Tegar, bermula waktu jam Istirahat sekolah tadi siang.
 Tegar, berkata pada Damar, Kia dan Arai: “Hei kamu bertiga, datanglah kamu bertiga jam 4 sore, ke rumahku, aku mau tunjukkan sesuatu padamu”.
 ” Apa sih yang kau mau tunjukkan pada kita, Tegar?” , Tanya Kia. “Ada saja”, jawab Tegar. “kamu tuh main rahasia-rahasi an, memangnya kamu sembunyikan Alien dari planet saturnus apa”, ujar Damar.
“ya kalau kamu semua mau tau, datang saja deh ke rumahku”, “titik, nggak pakai koma, apalagi tanda pentung”, jawab Tegar. “Diiiiih Tanda pentung itu tanda seru, tahu, kata Bu Guru” dan tahu itu nggak ada hubungannya sama Tempe”, timpal Damar, mencoba melucu, tapi tidak lucu”.
 “Baiklah kami coba nanti jam 4 ke rumah mu”, ujar Kia, “Bagaimana Teman-teman”, Okey dokey honey bunny…Arai dan Damar  menyetujui dengan bahasa sok sok gaul, tapi mereka tidak mengerti artinya, yang penting meniru dan keren.
 Sepeninggal Tegar, Kia hanya bergumam: “Ada saja jawaban Tegar  itu”, semoga bukan “ada-ada saja”, siapa tahu Tegar menyimpan telur Dinosaurus….
”ada juga cucunya Dinosaurus”, timpal damar,” memang ada cucunya Dinosaurus”, Tanya Kia, ya adalah, “bisa buaya, bisa saja burung, barangkali, jawab, Damar”, “hadeeeh, capeeek deeeh”, Kia menanggapi jawaban Damar dengan bersungut-sungut.
Tibalah saat yang dinantikan pukul 4 sore, Kia, Damar, Arai, dengan tanpa mandi sore terlebih dahulu, (sehingga bau keringat mereka bisa membuat kambing iri, hi…hi…hi.. karena Sang Kambing kalah saingan bau badan dengan tiga sekawan itu), bersepeda ke rumah Tegar, dan bermaksud mengajak Butet, Teman sekelas mereka. Karena bila ke rumah Tegar, mereka harus melewati rumah Butet, terlebih dahulu. Sebetulnya ada juga maksud batu dibalik udang, uups, maksud udang dibalik batuk, karena udangnya suka ngumpet di bebatuan, hii..hi…hi..sementara batu tidak bergerak. Nah apa maksud tersembunyi tersebut? Yang jelas mereka tidak ingin makan udang, yang mungkin di masak Ibunya Butet, namun sekalian menjemput Butet, mereka mengharap, barangkali kalau beruntung, mereka akan di suguhkan kue-kue buatan Ibu Butet, yang suka berjualan kue di pasar, hi..hi…hi…

Setiba di rumah Butet mereka bertiga, memberikan salam,” Permisi….permisi”…. Eehh kalian Damar, Arai, Kia, mari masuklah”, jawab Ibu Hallet, Ibunda Butet. “Selamat sore Ibu”, sahut mereka bertiga sambil mengangguk sopan. “Ada apa gerangan kalian kemari?”, mau bermain dengan Butet”, tanya Ibu Hallet. “Iya Ibu, bolehkah kami bermain sebentar dengan Butet”? Tanya Arai….
Oooh tentu saja, tapi jangan lewa jam 6 sore ya…kalian juga mesti sudah di rumah jam 6, supaya besok di sekolah, tidak terlalu lelah”, timpal Ibu Hallet. Nah kalian duduklah di sini dulu, Ibu panggilkan Butet ya, dia sedang di halaman samping, atau mungkin kamu menemui Butet di halaman samping saja, Bagiamana?” Tanya Bu Hallet. “Baik Bu, terima kasih”, jawab mereka bertiga kompak.
Ketika  mereka bertiga ada di halaman samping rumah Butet, nampaklah Butet sedang menyiram tanaman, “Halo Butet”, sapa Damar, Arai dan Kia.
 Eeh “kalian”, ada apa kamu ke sini, perasaan baru dua hari kamu bertiga kemari, dan dengan sukses menghabiskan bika ambon buatan Ibuku kan”? he…he…he..aku jadi nggak enak, timpal Damar.
” Begini, kita orang mau ajak kau, ke rumah Tegar”, ujar Kia,” mau nggak?” Katanya Tegar,” mau tunjukkan ke kita semua sesuatu yang rahasia”, begitu lhoo…kata Damar. “hmmm”, “ aku ijin Ibuku dulu ya….tapi sebelum aku ijin ke Ibu, aku juga mau tunjukkan ke kamu sesuatu”, jawab Butet.
“Apa dong”, tanya Arai. Ini, pohon lemon ku sudah berbuah. Timpal Butet. Ini “Pohon Lemon mu”?, tanya Damar setengah iri.” Beneran ini pohon yang kutanam dibantu Ayahku, waktu aku TK 0 kecil”. Sahut Butet setengah bangga.
“Dulu waktu aku tanam, kata Ayah bukan dari biji, tapi Ayah mencangkoknya terlebih dahulu, di pohon jeruk lemon milik Mang Ujang, kalau kau semua tak percaya, tanyalah Ibuku”, kata Butet. “Iya  deh”, kami percaya”, sahut mereka bertiga. Singkat cerita setelah Butet mendapat ijin dari Ibu Hallet, dan ketiga Teman Butet, dengan sukses juga menghabiskan 3 potong bolu gulung lemon keju, mengucapkan terima kasih kepada Ibu Hallet dan berpamitan, untuk ke rumah Tegar, akhirnya mereka ber-4 berangkat ke rumah  Tegar .

Akhirnya, sampai juga mereka di rumah Tegar, dan langsung disambut Tegar yang sudah menanti mereka di teras rumahnya,
”hei kamu semua, sudah aku tunggu-tunggu, eeh ada Butet juga, jadi asyik nih pamernya”. “Apaan sih, kamu mau tunjukkan ke kami, jerapah apa”? tanya Butet.
 “Ayolah, kau semua ke belakang rumahku”. Ajak Tegar. Segeralah mereka bertiga, ke halaman belakang rumah Tegar: “Nih lihat, tanaman tomatku, lihat buahnyaaa…”, woooww seru Butet, Damar, Arai, Kia, bersamaan….sekepal tanganku, tomat ini, kata Damar”.
 Jadi bagaimana, “kamu semua mau bantu aku memetiknya”? Tanya Tegar. “Ok….Ok…” jawab Butet….”siapa takut”, jawab Arai. Memang kamu takut sama apa, dong?”, tanya Kia ke Arai, takut dengan bau badan kita bertiga kalau kita nggak mandi 3 hari, hi…hi…jawab Kia.
Dengan bersemangat, mereka berlima memetik, tomat, dan menyerahkannya ke Ibu Suci, Ibunda Tegar. Dan karena jam tangan Kia sudah menunjukkan pukul 5.30, mereka ber empat segera berpamitan sambil mengucapkan terima kasih kepada Tegar dan Ibunda Tegar, atas kebaikkannya, membawakan beberapa buah tomat, untuk dibawa mereka pulang ke rumah masing-masing.
Di perjalanan menuju ke rumah, Damar, berpikir: “enak juga kalau aku punya tanaman yang benar-benar milik aku sendiri, nanti aku bisa membaginya ke Teman-temanku, lalu siapa tahu aku bisa menjualnya di pasar”.
 Setiba di rumah, Ia melihat Ibu, sedang menyiram tanaman-tanaman sayurnya yang masih berupa tunas, dan teringat akan apa yang dilakukan Butet, Damar menawarkan diri ke Ibunya: “Ibu boleh kah aku mulai dari sekarang, yang menyiram semua tanaman ini”?
 Ibu sempat heran dengan tawaran Damar, sebab biasanya Ia harus diminta beberapa kali, baru ia bersedia menyiram tanaman. Namun, tanpa pikir panjang Ibu mengiyakan permohonan Damar,  karena akhir-akhir ini banyak barang baru di toko tempat Ibu, bekerja,  yang  menyebabkan Ibu cepat merasa lelah.
Jadilah Damar sebelum mandi pagi dan sore hari, sebelum mandi sore, Ia rajin menyiram tanaman, tidak menggunakan gayung, atau penyiram tanaman yang memiliki banyak lubang, namun langsung menggunakan slang air dari kran, yang Ayah Pasang salah satunya di halaman depan rumahnya. Damar sangat bersemangat menyiram tanaman dengan air sebanyak-banyaknya, hingga air menggenangi tanah di sekitar tanaman.
Selang 5 hari kemudian pada tengah hari sepulang sekolah, apa yang terjadi?  Bukannya Tanaman menjadi segar, malah mati. Damar menjadi panik bukan kepalangan. Segera Ia bersepeda ke Toko millik Pak Aji, tempat Ibu bekerja... Melihat Anaknya tergesa-gesa, ingin berbicara, Ibu jadi khawatir. “Ada apa Nak?” Ibu…tanamannya kok jadi mati semua… Baik, nanti Ibu lihat, sekarang Ibu selesaikan pekerjaan Ibu dulu ya…..kau boleh menunggu di sini.
Sesampai Ibu dan Damar di rumah, melihat genangan air di sana-sini, di sekitar tanaman sayur, Ibu tertawa:” Damar…Damar…, ya…tentu tanaman akan mati semua, karena kau menyiram terlalu banyak air”. Sahut Ibu sambil tertawa.
“Ibu juga salah, karena tidak memberitahumu terlebih dahulu, cara merawat tanaman”…..ujar Ibu, sambil mengacak-acak rambut Damar. “Lhooo Ibu bukannya tanaman mesti di siram, supaya tumbuh dan kita bisa panen sayur?”.
 “Tanaman itu seperti juga manusia, kan tidak hanya butuh minum dari air,” jelas Ibu. “Coba saja, kalau kamu terlalu banyak minum, apa yang terjadi”? Tanya Ibu. “Perut Damar bisa kembung, dan jangan-jangan pipis terus”, yaaa sama saja dengan tanaman…Damar…Tanaman juga perlu pupuk untuk makananya, perlu matahari untuk memasak makanan, perlu dirawat supaya tidak terkena penyakit tanaman. Damar menunduk lesu…sambil bergumam….GaTot deh (Gagal Total). Sudahlah kan namanya baru belajar, Ibu coba menghibur. Ibu…tapi Ibu jangan bilang-bilang ke Teman-temanku ya…., kalau aku Gatot bercocok tanam…….mohon Damar….Ya….tentu…sahut Ibu Damar…Yuuk kita bereskan tanaman-tanaman ini, habis itu kita nikmati sama-sama biskuit coklat, pemberian Pak Aji, setelah kita makan malam….”Asyiiikkkk” pekik Damar yang kembali ceria….