Rumah Damar
Damar itulah yang akan kuceritakan padamu di blogku ini. Ia tinggal bersama Ayah Ibunya di sebuah Bukit Datar dekat laut yang membiru dengan angin sejuk yang membelai rambutmu jika cuaca cerah dan tidak sedang terjadi badai.
Sepanjang matamu memandang terhampar pasir putih kecoklatan, membatasi daratan dengan laut yang berwarna gabungan biru dan hijau tosca jernih, di pinggir dekat pantai. Bila engkau bermain di tepi pantai, atau cekungan-cekungan karang yang tersebar di pantai, saat laut surut, engkau akan berjumpa dengan bintang laut, ikan-ikan kecil warna-warni, timun laut, kerang, tapi awas hati-hati dengan kepitingnya….ya…kau goda, bisa luka kakimu, dicubit dengan capitnya yang kuat, juga hati-hati jangan injak bulu babi, perih telapak kakimu jika tertusuk.
Tepi pantai tempat tinggal Damar, di kelilingi bukit-bukit dengan hutan-hutan kecil hijau, juga rumah-rumah kecil yang dindingnya dicat putih terang ada di sela-sela warna dedaunan hijau, kuning, hijau muda, coklat dari pohon-pohon oak, pinus dan fir di hutan-hutan kecil itu. Kita juga bisa melihat tanah-tanah pertanian kecil, tempat para penduduk bertanam gandum, jagung, lemon, jeruk, tomat, dan petak-petak tanaman sayur lainnya, seperti brokoli, dan terung.
Damar itulah yang akan kuceritakan padamu di blogku ini. Ia tinggal bersama Ayah Ibunya di sebuah Bukit Datar dekat laut yang membiru dengan angin sejuk yang membelai rambutmu jika cuaca cerah dan tidak sedang terjadi badai.
Sepanjang matamu memandang terhampar pasir putih kecoklatan, membatasi daratan dengan laut yang berwarna gabungan biru dan hijau tosca jernih, di pinggir dekat pantai. Bila engkau bermain di tepi pantai, atau cekungan-cekungan karang yang tersebar di pantai, saat laut surut, engkau akan berjumpa dengan bintang laut, ikan-ikan kecil warna-warni, timun laut, kerang, tapi awas hati-hati dengan kepitingnya….ya…kau goda, bisa luka kakimu, dicubit dengan capitnya yang kuat, juga hati-hati jangan injak bulu babi, perih telapak kakimu jika tertusuk.
Tepi pantai tempat tinggal Damar, di kelilingi bukit-bukit dengan hutan-hutan kecil hijau, juga rumah-rumah kecil yang dindingnya dicat putih terang ada di sela-sela warna dedaunan hijau, kuning, hijau muda, coklat dari pohon-pohon oak, pinus dan fir di hutan-hutan kecil itu. Kita juga bisa melihat tanah-tanah pertanian kecil, tempat para penduduk bertanam gandum, jagung, lemon, jeruk, tomat, dan petak-petak tanaman sayur lainnya, seperti brokoli, dan terung.
Bila cuaca cerah, meski kau akan mengeluarkan banyak peluh untuk bersepeda, ke hutan, mungkin kau akan senang berjumpa dengan hewan-hewan kecil seperti tupai, ayam hutan, kelinci, dan burung-burung muray, burung robin, dan burung lainnya yang bernyanyi merdu. Bila beruntung, kau akan bertemu dengan rusa yang malu-malu, Elang yang gagah perkasa terbang di langit, atau landak yang durinya akan berdiri jika terkejut bertemu denganmu. Indah dan asyik bukan? Tapi jika kau bermain-main ke hutan, jangan masuk terlalu dalam ya…., pastikan kau bermain di sekitar pondok penjaga hutan, bisa-bisa kau tersesat, atau kau bertemu dengan Srigala, yang akan memangsamu, karena mengira kau jenis lain dari rusa kecil, yang biasa mereka makan. Di hutan juga yang menyenangkan tersebut, juga ada ular dan katak, kau harus cari tahu mana ular dan katak yang bisa berteman denganmu, dan mana katak atau ular yang berbisa.
Mari sekarang kita kembali ke kota kecamatan kecil tempat tinggal Damar. Yang sedikit penduduknya dan hanya ramai pada pagi hingga tengah hari. Di tengah hari, kota itu seolah terlelap dalam tidur siang penghuni-penghuninya, dan akan ramai lagi setelah jam 14 hingga tiba waktu makan malam. Saat tengah hari kedai kopi dan restoran-restoran kecil saja yang buka melayani pelanggan hingga pukul 10 malam, dan hanya satu-satunya klinik kesehatan di kota itu, yang buka sepanjang hari. Bila malam tiba, hanya suara deburan ombak dan serangga malam yang terdengar di kota Itu, atau mungkin suara penghuni satu, dua rumah, yang mendengkur keras, seperti Beruang, hi…hi…atau pada acara pertandingan olah raga dini, hari dan acara pasar malam, tiga bulan sekali, yang menghidupkan kota itu. Nama kota kecamatan tempat Damar tinggal adalah lembah hijau yang tidak seramai kota-kota besar. Pusat keramaian adalah dermaga, pada pagi hari, ketika para nelayan sibuk membongkar hasil tangkapannya jika tidak terjadi badai. Selain itu keramaian di kota lembah hijau, akan engkau temui di pasar pada jam 5 pagi hingga jam 9 pagi. Aaaah engkau pasti senang jika engkau berbelanja di pasar, bersama orang tuamu. Kau bisa membeli, buah warna warni, sedap juga sayur-sayuran. Kau juga bisa membeli kue-kue lezat, memegang ikan di penjual ikan, kau juga bisa jumpai kios, yang menjual pacul, ani-ani, sabit, dan alat pertanian lain, ada yang menjual paku, gergaji, dan alat pertukangan yang demikian banyak. Bila kau beruntung Ibu atau Ayahmu, akan membelikanmu, baju baru, ikan mas lucu dalam wadah plastic, atau mainan kapal seng, juga trotokan kaleng yang bisa kau dorong dan adu cepat dengan teman, sampai berbunyi kloneng…kloneng…kloneng, kitiran kertas, kelerang, atau banyak lah mainan, yang aku tidak bisa sebutkan satu persatu. Semua yang kau inginkan ada di pasar di kota damar tinggal. Sama bukan dengan pasar di dekat rumahmu?
Yuk sekarang kita berkunjung ke rumah Damar. Damar tinggal bersama Ibunya yang bekerja sebagai pelayan took, di toko kelontong milik Pak Aji, hingga Damar pulang sekolah pada pukul 3 sore. Ayah Damar seorang petugas kebersihan di sebuah kapal pesiar, yang bisa damar jumpai 3 bulan sekali, karena Ayah harus pergi berlayar, melayani tamu-tamu kapal pesiar itu. Mereka tinggal di rumah kecil, yang di kelilingi kebun-kebun sayur, yang ditanam Ibu dan Ayah. Kata Ibu: “ kita harus menanam beberapa hal yang bisa kita makan, jadi kita bisa menabung untuk biaya Universitas kau”,” kelak jika kau mau sekolah sampai tinggi”. “Juga penting jika Ayahmu terlambat mengirim uang, sementara uang jerih payah Ibu”, “pasti habis membeli tepung gandum, minyak, bumbu, dan apapun yang tidak bisa dihasilkan oleh kebun kita”. Demikian Ibu selalu berkata.
Jika kau melihat rumah Damar dari luar rumah, rumah itu hanya terbuat dari batu bata kasar yang ayah damar cat putih, ada kursi rotan panjang di terasnya, tempat Damar, Ibu dan bila Ayah sedang pulang, duduk-duduk memandang laut sambil menghirup teh, dan kue-kue kecil buatan Ibu, atau buah-buahan manis dan lezat, jika Ayah dan Ibu, sedang berhemat. Di dalam rumah tempat tinggal Damar, mungkin berbeda dengan rumahmu. Hanya ada ruang depan, ruang belakang, 3 kamar. Seluruh rumah hanya berlantai semen halus, bukan berlantai keramik atau marmer. Tidak ada permadani di rumah Damar, atau tikar tebal. Di ruang depan ada 2 sofa tua yang bertambal-tambal di sana-sini, tapi empuk, bersih dan nyaman jika kau duduki. Di Dinding yang putih hampir tertutup rak-rak beserta buku-buku milik Ayah, Ibu, dan Damar Sendiri. Juga ada Rak-rak tempat mainan Damar. Ada juga kotak kecil Tv tua, di ruang itu, tapi Ayah, Ibu, dan Damar sendiri kurang suka menonton Tv yang membosankan, dan menurut Ayah, membuat tagihan listrik membengkak. Damar sendiri lebih senang membaca dan bermain dengan mainan2 yang dibelikan atau dibuatkan Ayah dan orang2 yang Ia sayangi, daripada menonton Tv, karena seharian ia sudah lelah bermain. Membaca baginya enak, karena bisa dilakukan sambil tidur-tiduran. Sementara tayangan Tv untuk Anak, bagus, tapi ia tidak bisa menyentuh tokoh-tokoh yang ada di TV. Sering Ayah harus menggendong Damar yang ketiduran membaca ke kamarnya.
Sekarang mari kita tengok bagian belakang bagian rumah damar, ada dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi, dan ditengahnya ada 2 bangku kayu agak panjang seperti di warung kopi, dengan meja kayu diantara dua bangku panjang itu. Dapur itu putih mungil, bersih dan rapi. Oya lupa kusampaikan padamu, kamar mungil Ayah Ibu, dan Kamar tamu yang kecil, ada di dekat ruang depan. Kamar Damar ada di lantai dua rumah itu, hampir menyentuh langit-langit dan langit-langit itu miring. Orang Dewasa harus setengah membungkuk bila hendak masuk ke kamar Damar yang berlantai kayu oak dan lebih luas, bila disbanding kamar Ayah dan Ibu. Kelak bila Damar, memiliki banyak Adik , baik laki-laki atau perempuan, Ayah akan membagi kamar itu menjadi dua, sehingga yang ada hanyalah kamar Anak laki-laki dan kamar Anak Perempuan.
Demikian ku ceritakan kota dan rumah mungil tempat Damar tinggal hingga ia menjadi pemuda. Sebuah rumah mungil, di kota kecil…..mungkin kau akan bertanya-tanya, lalu siapa Damar itu…..nanti kuceritakan lebih banyak lagi ya…..sementara ini….kau harus istirahatkan matamu dulu dari blog ini….
Mari sekarang kita kembali ke kota kecamatan kecil tempat tinggal Damar. Yang sedikit penduduknya dan hanya ramai pada pagi hingga tengah hari. Di tengah hari, kota itu seolah terlelap dalam tidur siang penghuni-penghuninya, dan akan ramai lagi setelah jam 14 hingga tiba waktu makan malam. Saat tengah hari kedai kopi dan restoran-restoran kecil saja yang buka melayani pelanggan hingga pukul 10 malam, dan hanya satu-satunya klinik kesehatan di kota itu, yang buka sepanjang hari. Bila malam tiba, hanya suara deburan ombak dan serangga malam yang terdengar di kota Itu, atau mungkin suara penghuni satu, dua rumah, yang mendengkur keras, seperti Beruang, hi…hi…atau pada acara pertandingan olah raga dini, hari dan acara pasar malam, tiga bulan sekali, yang menghidupkan kota itu. Nama kota kecamatan tempat Damar tinggal adalah lembah hijau yang tidak seramai kota-kota besar. Pusat keramaian adalah dermaga, pada pagi hari, ketika para nelayan sibuk membongkar hasil tangkapannya jika tidak terjadi badai. Selain itu keramaian di kota lembah hijau, akan engkau temui di pasar pada jam 5 pagi hingga jam 9 pagi. Aaaah engkau pasti senang jika engkau berbelanja di pasar, bersama orang tuamu. Kau bisa membeli, buah warna warni, sedap juga sayur-sayuran. Kau juga bisa membeli kue-kue lezat, memegang ikan di penjual ikan, kau juga bisa jumpai kios, yang menjual pacul, ani-ani, sabit, dan alat pertanian lain, ada yang menjual paku, gergaji, dan alat pertukangan yang demikian banyak. Bila kau beruntung Ibu atau Ayahmu, akan membelikanmu, baju baru, ikan mas lucu dalam wadah plastic, atau mainan kapal seng, juga trotokan kaleng yang bisa kau dorong dan adu cepat dengan teman, sampai berbunyi kloneng…kloneng…kloneng, kitiran kertas, kelerang, atau banyak lah mainan, yang aku tidak bisa sebutkan satu persatu. Semua yang kau inginkan ada di pasar di kota damar tinggal. Sama bukan dengan pasar di dekat rumahmu?
Yuk sekarang kita berkunjung ke rumah Damar. Damar tinggal bersama Ibunya yang bekerja sebagai pelayan took, di toko kelontong milik Pak Aji, hingga Damar pulang sekolah pada pukul 3 sore. Ayah Damar seorang petugas kebersihan di sebuah kapal pesiar, yang bisa damar jumpai 3 bulan sekali, karena Ayah harus pergi berlayar, melayani tamu-tamu kapal pesiar itu. Mereka tinggal di rumah kecil, yang di kelilingi kebun-kebun sayur, yang ditanam Ibu dan Ayah. Kata Ibu: “ kita harus menanam beberapa hal yang bisa kita makan, jadi kita bisa menabung untuk biaya Universitas kau”,” kelak jika kau mau sekolah sampai tinggi”. “Juga penting jika Ayahmu terlambat mengirim uang, sementara uang jerih payah Ibu”, “pasti habis membeli tepung gandum, minyak, bumbu, dan apapun yang tidak bisa dihasilkan oleh kebun kita”. Demikian Ibu selalu berkata.
Jika kau melihat rumah Damar dari luar rumah, rumah itu hanya terbuat dari batu bata kasar yang ayah damar cat putih, ada kursi rotan panjang di terasnya, tempat Damar, Ibu dan bila Ayah sedang pulang, duduk-duduk memandang laut sambil menghirup teh, dan kue-kue kecil buatan Ibu, atau buah-buahan manis dan lezat, jika Ayah dan Ibu, sedang berhemat. Di dalam rumah tempat tinggal Damar, mungkin berbeda dengan rumahmu. Hanya ada ruang depan, ruang belakang, 3 kamar. Seluruh rumah hanya berlantai semen halus, bukan berlantai keramik atau marmer. Tidak ada permadani di rumah Damar, atau tikar tebal. Di ruang depan ada 2 sofa tua yang bertambal-tambal di sana-sini, tapi empuk, bersih dan nyaman jika kau duduki. Di Dinding yang putih hampir tertutup rak-rak beserta buku-buku milik Ayah, Ibu, dan Damar Sendiri. Juga ada Rak-rak tempat mainan Damar. Ada juga kotak kecil Tv tua, di ruang itu, tapi Ayah, Ibu, dan Damar sendiri kurang suka menonton Tv yang membosankan, dan menurut Ayah, membuat tagihan listrik membengkak. Damar sendiri lebih senang membaca dan bermain dengan mainan2 yang dibelikan atau dibuatkan Ayah dan orang2 yang Ia sayangi, daripada menonton Tv, karena seharian ia sudah lelah bermain. Membaca baginya enak, karena bisa dilakukan sambil tidur-tiduran. Sementara tayangan Tv untuk Anak, bagus, tapi ia tidak bisa menyentuh tokoh-tokoh yang ada di TV. Sering Ayah harus menggendong Damar yang ketiduran membaca ke kamarnya.
Sekarang mari kita tengok bagian belakang bagian rumah damar, ada dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi, dan ditengahnya ada 2 bangku kayu agak panjang seperti di warung kopi, dengan meja kayu diantara dua bangku panjang itu. Dapur itu putih mungil, bersih dan rapi. Oya lupa kusampaikan padamu, kamar mungil Ayah Ibu, dan Kamar tamu yang kecil, ada di dekat ruang depan. Kamar Damar ada di lantai dua rumah itu, hampir menyentuh langit-langit dan langit-langit itu miring. Orang Dewasa harus setengah membungkuk bila hendak masuk ke kamar Damar yang berlantai kayu oak dan lebih luas, bila disbanding kamar Ayah dan Ibu. Kelak bila Damar, memiliki banyak Adik , baik laki-laki atau perempuan, Ayah akan membagi kamar itu menjadi dua, sehingga yang ada hanyalah kamar Anak laki-laki dan kamar Anak Perempuan.
Demikian ku ceritakan kota dan rumah mungil tempat Damar tinggal hingga ia menjadi pemuda. Sebuah rumah mungil, di kota kecil…..mungkin kau akan bertanya-tanya, lalu siapa Damar itu…..nanti kuceritakan lebih banyak lagi ya…..sementara ini….kau harus istirahatkan matamu dulu dari blog ini….
